Review Buku Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer

Bumi Manusia adalah buku novel pertama dalam kuartet epik karya Pramoedya Ananta Toer disebut Buru Quartet, pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1980. Kisah ini diatur di akhir pemerintahan kolonial Belanda dan ditulis ketika Pramoedya masih di penjara pulau politik Buru di kawasan timur Indonesia. cerita pertama kali diceritakan secara lisan kepada sesama tahanan Pramoedya pada tahun 1973 karena ia tidak mendapatkan izin untuk menulis.  Cerita menyebar melalui semua tahanan sampai 1975 ketika Pramoedya akhirnya diberikan izin untuk menulis cerita rinci Bumi Manusia

Tokoh sentral dan narator dari buku novel Bumi Manusia adalah seorang anak Jawa, Minke, yang beruntung untuk menghadiri sebuah sekolah elit Belanda karena ia adalah keturunan bangsawan Jawa. Minke menghadapi dunia yang kompleks dan berbahaya ketika ia bertemu Nyai Ontosoroh, selir dari seorang pria Belanda. kehidupan Minke menjadi lebih berbahaya ketika ia jatuh cinta dengan Annelies, putri Indo  Nyai Ontosoroh. Di Bumi Manusia, Pramoedya menggambarkan kehidupan yang tidak adil dari masyarakat Indonesia selama periode penjajahan Belanda. Pramoedya menggambarkan sosok Minke sebagai orang vokal, yang menolak masyarakat hierarkis ini dengan menjadi penulis bukan pidato-maker, yang memiliki kemiripan dengan kehidupan Pramoedya yang dipenjara selama dua tahun setelah membawa dokumen anti-Belanda dan kemudian menjadi penulis.

Jaksa Agung Indonesia melarang buku novel Bumi Manusia pada tahun 1981. Banyak salinan edisi pertama selamat dan diedarkan, bersama dengan edisi yang diterbitkan di Malaysia. Itu kembali untuk mencetak di Indonesia pada tahun 2005 oleh penerbit Lentera Depantara, setelah itu sudah muncul di seluruh dunia dalam 33 bahasa.

Baca Juga: C.S Lewis Penulis Novel Anak Paling Berpengaruh

Ringkasan Plot

Bumi Manusia bercerita tentang Minke, yang belajar di sebuah Hogere Burger School (HBS) di era ketika hanya keturunan penjajah Eropa dapat berharap untuk mencapai tingkat pendidikan. Minke adalah seorang penulis muda berbakat yang karya-karyanya diterbitkan dalam beberapa jurnal berbahasa Belanda dan secara luas dikagumi. Tapi Minke tidak disukai oleh banyak rekan-rekannya sesama mahasiswa, yang semuanya mengklaim beberapa keturunan Eropa. Dia digambarkan sebagai berani dalam menentang ketidakadilan dikenakan pada sesama Jawa serta aspek menantang budaya sendiri.

Minke diperkenalkan untuk seorang wanita Indonesia yang sangat tidak biasa, Nyai Ontosoroh, yang merupakan selir seorang pria Belanda bernama Herman Mellema. Minke jatuh cinta dengan putri mereka, Annelies, yang akhirnya dia menikah dalam sebuah pernikahan Islam sesuai dengan “pribumi” adat istiadat, tapi yang menurut hukum Belanda, tidak memiliki keabsahan hukum.

Setelah keluar dari tahanan pada bulan April 1980, Hasjim Rachman, mantan editor Eastern Star dan Pramoedya bertemu dengan Joesoef Isak, mantan wartawan dari surat kabar Merdeka yang ditahan di penjara Salemba. Setelah berbagai diskusi, sebuah kesepakatan dicapai untuk menerbitkan karya-karya mantan tapol yang sebelumnya tidak pernah diterima oleh penerbit lain

Be Sociable, Share!
January 18, 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *